Info Inspiratif Seputar Jabar

Heboh! Ini Yang Dilakukan Tradisi Nyalin di Situs Samida

0

CIAMIS-Makam Sang Raja Prabu Gurugantangan di Samida tampak ramai. Alunan musik tradisional dan upacara adat mengiringi riuh piuhnya sekitar makam. Masyarakat dari berbagai lapisan datang berbondong bondong mengikuti acara puncak adat ritual nyalin di Situs Samida yang diselenggarakan oleh pemerintah desa bekerjasama dengan kelompok swadaya masyarakat.

Rajadesa merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat. Dalam gemuruh perbukitan Rajadesa Ciamis, terdapat sebuah permata sejarah yang memancarkan pesona dan keajaiban masa lalu. Situs Bukit Samida dengan pesonanya yang menawan, mengundang para pengunjung untuk menggali lebih dalam tentang warisan budaya yang tertanam kuat di tanah Jawa Barat. Warisan budaya yang masih dijaga di Situs Samida ini masih dijaga sampai saat ini dengan cara ritual nyalin di dekat makam Raja Sirnajaya.

“ Nyalin secara bahasa itu ganti, nah disini juga sama ada yang disalin yaitu pusaka artinya disalin yaa dibersihkan dari kotor menjadi bersih kan gitu “ Ujar Haris. Upacara Nyalin ini rutin digelar setiap tahun, tepatnya pada senin kliwon bulan jumadil akhir. Sebelum prosesi nyalin dilakukan, sang kuncen dan para penjaga lainya mengambil air dari pancuran Cibarani yang diyakini sebagai tempat mandi keluarga raja.

Abdul Haris, budayawan setempat mengatakan, ritual ini gelar bukan untuk migusti atau memertuhan benda-benda pusaka, tapi mupusti atau merawat barang-barang para pendahulu Rajadesa. Menurutnya, upacara nyalin ini bukan sekedar ritual tahunan, hanya mencuci dan mengganti kain pembungkus benda-benda pusaka. Tetapi ada makna mendalam yang mesti dijadikan pedoman dan selalu dilakukan para penerus zaman.

Keberadaan Rajadesa tidak terlepas dari peran Guru Gantangan yang merupakan salah seorang putra Prabu Siliwangi dari istri Dewi Nawarsih. Setelah terusir dari kerajaan Pajajaran lantaran mempunyai kekurangan fisik, Guru Gantangan berkelana ke banyak tempat hingga akhirnya bermukim di bukit Samida.

Aroma wewangian yang khas itu menyusup pelan diantara sepi dan khidmatnya upacara nyalin di Situs Samida. Puluhan mata tertuju kepada empat orang yang duduk dibawah saung bertirai putih. Mereka adalah juru kunci dan pemerlihara tempat yang dipercaya sebagai pusat peradaban yang dibangun Guru Gantangan.

Wawa Kosawra, sang juru kunci atau kuncen Situs Samida, tampak hati-hati mencuci dan memberi wewangian pada benda-benda pusaka yang diyakini sudah beusia ratusan tahun. Satu persatu, benda-benda itu dibuka untuk dimandikan, kemudian diganti kain pembungkusnya. Itulah proses nyalin atau mengganti kain. Rangkaian kegiatan digelar selama 6 hari diawali dengan menampilkan helaran serta kesenian tradisional pada sabtu 7 januari 2023 hingga kamis 12 januari 2023.

Haris sebagai ketua pelaksana dan pengelola Situs Samida berharap adanya bantuan dari pemerintah Kabupaten Ciamis agar lebih diperhatikan. Situs samida ini rencanya akan dibuatkan museum untuk tempat pusaka-puasaka yang ada agar bisa disimpan dengan rapih. Laporan itu sudah masuk kepada Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Budi Kurnia kemarin saat acara puncak upacara nyalin.

Saat ini tradisi lokal harus tetap dijaga meski zaman sudah berubah tetapi sejarah tetap harus dipertahankan karena sebagai bukti bahwa ada peradaban dahulu. Pemeliharaan Situs Samida ini menjadi bagian yang penting sebagai bentuk kepedulian terhadap leluhur kita tujuanya merawat, melesatarikan mupusti bukan migusti.

“ Banyak hikmah yang dapat diambil dari misalin ini, masyarakat berkumpul sambil menikmati berbagai hasil bumi serta pagelaran seni tradisional kemudian berdoa bersama. Setelah itu makan bersama saling berbagi, di situlah letak kebersamaan yang terus kita jaga sampai sekarang “. Ujar Haris. ( Fikri M Pamungkas SPI B )

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Solverwp- WordPress Theme and Plugin