Info Inspiratif Seputar Jabar

Secuil Harapan : Panggung Sandiwara Jembatan Kehidupan

0

INDRAMAYU-Riuh saut umat manusia di berbagai pojok panggung bergemuruh saat menyaksikan sebuah tontonan Seni Tradisional Sandiwara di Indramayu. Wajah mereka tersenyum bak matahari pagi ketika sandiwara menayangkan sebuah “bodoran” atau komedi yang diperankan bodor sandiwara. Sandiwara yang diiringi dengan alunan tabuan alat musik jawa dan suara sinden dalam menyairkan membuat penonton betah dibuatnya, terutama kaum kolot. Sandiwara itu berlangsung pada 28 April 2023 pada salah satu acara hajatan pernikahan di desa Tugu blok B, RT. 08 RW. 04.

Panggung sandiwara itu berdiri membumi di waktu pasca panen padi. Masyarakat kelas bawah merasa senang dengan adanya hiburan sandiwara, pasalnya kesenian sandiwara ini merupakan kesenian yang terbilang mahal untuk mengadakannya. Bagi orang pedesaan, ini merupakan hiburan yang jarang terjadi, maka tak heran jikalau panggung tersebut ramai membeludak dikunjungi banyak orang.

Wajah salah satu penonton itu tersenyum lebar sambil berkata, “Saya sangat senang sekali ketika ada tetangga yang mengadakan sandiwara di hajatanya” ujar Ibu Darsem salah satu penonton sandiwara. seorang Ibu-ibu menjelaskan perasaan bunga saat ada seni tradisional sandiwara ditanggap. Pasalnya menurut salah satu penonton itu untuk mengadakan sebuah tontonan sandiwara tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan. Kesempatan yang langka ini mengundang banyak orang untuk bisa menyaksikan sebuah tontonan sandiwara.

Ibu hajat dalam acara pernikahan anaknya itu sangat bahagia tatkala anaknya menikah dengan sebuah hiburan tontonan sandiwara. karena dengan adanya tontonan itu memberikan kesan yang terhormat dan menarik semua masyarakat didesa tugu untuk bisa menyaksikan. Dengan adanya tontonan sandiwara para pedagang kaki lima dan pedagang kecil juga merasa diuntungkan, sebuah ekonomi kreatif terbangun dengan adanya tontonan sandiwara. Ibu hajat dari acara ini nampaknya teramat sangat bunga, “Saya sangat senang tatkala banyak orang yang hadir dalam pesta pernikahan anak saya. Dengan ramai orang, semua orang ikut senang dan bahagia, mereka senang bisa menyaksikan sebuah hiburan sandiwara, ya walaupun biaya pengadaannya terbilang mahal bagi orang kampung” ucap Ibu Darinah dengan mimik wajah senang bahagia.

Sandiwara BRI (Bina Remaja Indah) dari desa Sliyeg Indramayu itu berhasil membuat masyarakat desa tugu tertawa dan bahagia. Sebuah lakon “Siluman Alas Loyang” yang diperankan oleh masing masing tokoh sungguh menarik daya pikat penonton, mereka berakting dan berdrama bak layaknya artis FTV di Stasiun Televisi. Namun hal itu tidak sebanding dengan gaji yang diberikan oleh penyelenggara sandiwara, pasalnya kesenian pagelaran sandiwara menurut salah satu pemeran sandiwara Mang Yoyo mengatakan bahwa “Dari pagelaran sandiwara ini saya mendapat bayaran ya lumayanlah, tidak seberapa, namun Alhamdulillah”, ia menyampaikan perasaan dengan muka melas yang tersirat. “Karena bayaran yang diberikan kepada pemain itu tergantung pemerannya. Jika ia hanya menjadi pemeran cadangan seperti buta-butaan dan badut seperti saya maka ya bayarannya segitulah, tidak begitu besar tapi ya lumayan untuk menyambung hidup” ujar Mang Yoyo saat menyampaikan pesannya.

Namun ia menikmati hasil pekerjaanya itu, karena beliau melakukannya dengan senang hati dan tanpa tekanan, “Lumayanlah walaupun kecil juga ya buat menyambung hidup”, sahutnya dengan muka senyum tipis sambil membereskan pakaian kostum tampilnya.

Bukan hanya Mang Yoyo yang mejadi pemeran “Badut” ada juga temannya dia yang berperan sebagai tokoh seri atau utama. Jika tokoh utama ini bayarannya lumayan besar karena ia memerankan tokoh dengan akting dan kemampuan sinematografinya. Namanya Mang Jenggo Suwari, “Kalo untuk saya bayaran dalam melakukan pentas sandiwara ini lumayan gede, ya walaupun belum seberapa ada sih 200 ribu mah. Soalnya duit utama untuk bayaran tersebutkan untuk dibagi-bagi lagi kepemeran lain, para penabuh alat musik, penata lampu, penata rias, dan lain lain” ujar dia sambil tersenyum.

Sebenarnya gaji dalam sandiwara ini tergantung peran apa yang diambil dalam pementasannya. Jika dalam melakukan pentas itu mengambil peran seperti Mang Jenggo ya gajiannya lumayan gede, namun jika kebagian peran sampingan seperti badut, dan setan-setanan seperti Mang Yoyo itu bayarannya terbilang cukup kecil.

Kesenian lokal tersebut memang kerap kali di tanggap, namun persaingan dalam dunia seni juga banyak tantangannya, karena tidak hanya Sandiwara Bina Remaja Indah saja yang ada di Indramayu. Ada beberapa sandiwara group lainya seperti Dharma Putra, Lingga Buana, dan lain-lain. Bahkan kesenian pagelaran sandiwara ini bukan hanya ada di Indramayu, di Cirebon juga ada dengan lakon yang disajikan tentang Wiracarita, Hindu, Jawa, dan Islam. Dengan banyaknya kesenian sandiwara juga mempengaruhi kepada pendapatan ekonomi dari sandiwara, belum lagi karena jaranganya peminat terhadap sandiwara karena biaya pertunjukannya terlalu mahal.

Walaupun terbilang mahal dalam pengadaanya, pagelaran sandiwara ini setiap bulannya pasti ada saja yang menanggapnya, apalagi jika dalam bulan-bulan pada masa panen dan Adat adat Jawa seperti Mapag Sri dan Sedekah Bumi pasti ada desa yang menyelenggarakannya. “Kesenian lokal ini harus tetap dipertahankan, supaya bukan hanya kita saja yang tahu akan hal itu, namun untuk generasi penerusnya juga”, ujar Hj. Carti penasehat dari sandiwara Bina Remaja Indah. (Fauzi Yassin, SPI B).

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Solverwp- WordPress Theme and Plugin