Info Inspiratif Seputar Jabar

Sejarah Gedung Kesenian Rumentang Siang, Gedung Kesenian Yang Kini Sudah Tidak Terurus

0

BANDUNG-Bangunan abu-abu dengan aksen merah dan papan nama perak besar. Itu terletak di sebelah pasar tradisional Kosambi, agak tersembunyi dan kadang-kadang terlihat seperti bangunan biasa daripada tempat pertunjukan seni besar. Jalan kaki memakan waktu sekitar 5 meter dalam kondisi terkadang berlumpur. Namun hal itu tidak menghentikan para penikmat seni untuk melangkahkan kaki ke gedung era 80-an ini. Ini Gedung Kesenian Rumentang Siang.

Gedung ini dibangun pada tahun 1925 sebagai bioskop untuk orang Belanda yang diberi nama Dipoli. Kemudian di penghujung masa jabatan Gubernur Jabar Solikhin, ia mengusulkan agar seniman lokal membuat sesuatu sebagai bentuk bakti terakhir sebelum ia meninggalkan jabatan. Para seniman sepakat meminta teater karena menganggap gedung YPK sebagai tempat teater saja tidak cukup. Maka pada tahun 1975 diubah menjadi Gedung Rumentang Siang.

Mengubah gedung bioskop Belanda menjadi gedung seni tidak banyak berubah. Hanya internal dan nama yang diubah. Selama proses pembangunan kembali, Drs. Wahyu Bisana mengusulkan nama “Rumentang Siang”. Kata-kata bahasa Sunda ini memiliki makna filosofis yang cukup besar. Teater seni yang mampu menampung 370 penonton ini tidak semeriah tahun 1990-an. Dulu, bangunan ini sering dijadikan tapak bangunan asing, seperti dari Jerman, Inggris, Prancis, dan Jepang. Pembangunan bangunan lain yang lebih strategis dan megah artistik menjadi salah satu faktor penyebab turunnya pamor Rumen Tangxiang.

Selain itu, kondisi interior gedung sudah tidak sesuai lagi untuk pertunjukan berskala besar. Auditorium yang seharusnya diganti secara berkala, baru diganti dua kali sejak tahun 1975. urang sunda mah, pawai kali,” imbuh Cece yang memimpin selama empat tahun. Namun, bukan berarti Ru Men Tang Xiang tidak lagi diminati para pecinta seni. Gedung 2 lantai ini masih sering digunakan oleh komunitas seni seperti AAP, Teater Sunda Kiwari dan Teater Bandung. Selain itu, tempat ini sering dijadikan sebagai tempat pertemuan seni dan budaya. Misalnya, diskusi sastra, resensi buku, film, dll.

Tempat pertunjukan tradisional seperti Mentangxiang sebenarnya mengingatkan kita untuk menjaga dan melestarikan budaya asli kita sendiri, yang mengacu pada budaya Sunda. Saat ini, dengan semakin banyaknya tempat hiburan atau relaksasi modern, tidak ada salahnya meluangkan sedikit waktu untuk melihat kesenian tradisional di gedung yang sarat dengan budaya lokal. Padahal, film yang diputar di bioskop favorit Anda sama menghiburnya dengan kesenian Sunda.

Penulis: Reno Hardiyanto

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Solverwp- WordPress Theme and Plugin