Info Inspiratif Seputar Jabar

Menelusuri Lorong Bawah Tanah Gedung de Vries yang Menyisakan Rahasia Sejarah

0

GEDUNG DE VIRES-Gedung ini terletak di Jalan Asia Afrika, yang berseberangan dengan Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia Afrika. Awalnya, gedung ini adalah sebuah toko serba ada yang dimiliki oleh seorang Belanda bernama Andreas de Vries. Andreas de Vries datang ke Bandung pada tahun 1899 dan menjadi salah satu dari 1.500 penduduk Eropa pertama di Kota Bandung. Ketika pertama kali datang, ia membuka sebuah toko kelontong kecil di tepi Jalan Raya Post (Grote Postweg), di sebelah utara Alun-Alun (yang sekarang menjadi Gedung BRI). Kemudian, ia menyewa bangunan di sebelah barat Hotel Homann dan memindahkan bisnisnya. Toko De Vries, sebagai toko serbaada pertama di Kota Bandung, kemudian menjadi terkenal di seluruh kota.

Gedung de Vries yang tidak semua orang tahu tentang sejarah dibalik berdirinya Gedung tersebut. Konon katanya dibawah Gedung tersebut terdapat sebuah jalan bawah tanah yang memberikan kesan mistis. Adanya penjara di jalan bawah tanah itu disebut sebagai tempat para tahanan politik, jika dibayangkan apakah memang seseram itu?

Sejarah berdirinya Gedung de Vries ini menyisakan rahasia, adanya jalan bawah tanah atau terdapat ruangan dibawah bangunan ini, konon katanya di jalan tersebut ada lorong rahasia yang menghubungkan ke jalan bawah tanah Asia Afrika.  Lorong yang tersambung ke lantai bawah tanah gedung de Vries itu dahulunya berpintu. Akan tetapi setelah diputuskan untuk ditutup, jejak akses lorong itu lenyap. Kini lorong tersebut berupa dinding kelabu memanjang, namun soal fungsi lorong itu sampai kini masih misterius.

Gedung de Vries kini milik Bank OCBC NISP. Staf Museum Konferensi Asia Afrika, Firman Kaban mengatakan ada lorong rahasia yang tersambung ke Gedung Merdeka. “Tapi sudah ditutup sejak dilakukan restorasi,” katanya Senin, 4 Juni 2023.

Lorong yang tersambung ke lantai bawah tanah gedung de Vries itu tadinya berpintu. Setelah diputuskan untuk ditutup, jejak akses lorong itu lenyap. Di lokasi yang ditunjukkan Albert, kini berupa dinding kelabu memanjang. Soal fungsi lorong itu sampai kini masih misterius.

Gedung de Vries awalnya berbentuk rumah yang kemudian dipakai sebagai toko serba ada oleh Andreas de Vries. Kemudian pada akhir abad ke-19 menjadi tempat kongkow orang Belanda yang membentuk perkumpulan Societiet Concordia. Selanjutnya mereka pindah tempat berkumpul ke Gedung Concordia yang kemudian dinamakan Gedung Merdeka di seberangnya.

Di awal abad 20, arsitek Edward Cuypers Hulswit memugar gedung de Vries. Hingga sekarang wujudnya yang berdampingan dengan Hotel Savoy Homann masih bertahan. Menurut Firman, perusahaan tersebut telah melakukan renovasi gedung pada 2011. “Restorasi tanpa mengubah bagian dalam gedung, semuanya asli,” ujarnya. Termasuk sebuah menara di sudut bangunan yang menjadi ikon.

Bangunan yang terletak di seberang Gedung Merdeka (Concordia) tempat dilaksanakannya Konferensi Asia Afrika tahun 1955 itu, juga berada di samping hotel bersejarah Savoy Homan yang berlokasi di KM-0 (nol) Kota Bandung.

Bangunan itu sebelumnya merupakan rumah dengan gaya arsitektur Indis yang dibangun tahun 1879. Bangunan yang dulunya berada di jalan Postwagon tersebut kembali dibangun tahun 1920 oleh Edward Cuypers Architech Hulswit dan menjadi “Werenhuis de Vries” atau “Supermarket de Vries”.

Hingga sekarang bangunan tersebut digunakan sebagai museum. Isinya artefak dari sejarah bank pemilik tempat yang berdiri sejak 1941 itu, seperti mesin tik, mesin hitung, buku tabungan kuno. Ada juga sepeda antik milik pendiri bank OCBC NISP, Karmaka Surjaudaja.

Museum di gedung de Vries kata Firman, dibuka terbatas untuk publik. Alasannya, bangunan itu masih aktif dipakai untuk melayani nasabah sebagai ruang tunggu. (Hana Nadhifah Rahman, SPI B)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Solverwp- WordPress Theme and Plugin