Info Inspiratif Seputar Jabar

Jalur Kereta Api Soreang-Ciwidey: Pesona Keindahan Alam Dan Sejarah Yang Menakjubkan

0

SOREANG-JALUR kereta api yang memanjang dari Soreang hingga Ciwidey kini hanya tinggal kenangan. Begitu pun dengan jembatan yang berada di sepanjang jalur tersebut, jembatan-jembatan itu kini sudah berkarat dan telah ditutupi oleh semen-semen. Tahun 1982, jalur ini di non-aktifkan oleh PT. KAI. Mulai saat itulah jalur kereta api Soreang-Ciwidey tidak ada lagi ular besi yang melintas di atasnya.

Ditengah jalan yang meliuk-liuk dan melalui pegunungan yang memukau dan asri, terdapat sebuah jalur kereta api yang memanjang dari Soreang hingga Ciwidey. Jalur Soreang-Ciwidey ini diresmikan  oleh pemerintahan Belanda atau Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1923. Jalur kereta api ini aktif hingga tahun 1980-an dan pada tahun 1982 jalur ini dinonaktifkan hingga saat ini. Jalur ini digunakan oleh Pemerintah Belanda untuk memudahkan mereka dalam mengangkut hasil pertanian dari Ciwidey menuju Bandung sampai Batavia.

Namun setelah Indonesia merdeka dan Pemerintahan Belanda tidak lagi menguasai pemerintahan Indonesia, jalur kereta api ini diambil alih oleh PT. KAI. Jalur ini menjadi urat nadi bagi penghubung masyarakat Soreang dan Ciwidey, yang membawa mereka menuju tempat kerja, pasar, dan kegiatan sehari-hari lainnya. “Pas dulu teh tiap hari Amih mau kasawah berangkat dari rumah teh jam 4 subuh naik kereta ti Stasiun Ciwidey ke Soreang. Terus pas pulang Amih naik kereta api lagi pas jam 2 siang.” Ujar Amih (63).

Pada saat itu, kereta api Soreang-Ciwidey ini hanya beroperasi sekali jalan setiap harinya, dengan keberangkatan dari Ciwidey-Soreang pada jam 04.00 pagi dan pulang dari Soreang-Ciwidey pada jam 14.00. Amih pun berkata bahwa harga tiket atau ongkos yang harus dikeluarkan saat beliau menaiki ular besi ini adalah 50 rupiah sekali jalan atau 100 rupiah perhari (pergi dan pulang).

“Ga banyak penumpang, jarang, waktu itu mah yang naik kereta teh, paling di tiap stasiun teh ada 2 sampai 5 orang yang naik” Ujar Amih. Amih ini merupakan salah satu penumpang dari kereta api Soreang-Ciwidey. Amih menggunakan kereta api ini untuk pergi kesawahnya yang berada di daerah Soreang, Citaliktik. Dengan adanya kereta api ini Amih merasa terbantu, Amih jadi lebih mudah untuk melakukan perjalanannya ke lahan sawahnya. Kereta api ini pun memudahkan Amih dan masyarakat lainnya dalam mengangkut hasil dari pertaniannya tanpa bersusah payah dan tanpa mengeluarkan uang lebih.

“Nah waktu itu ada kereta terguling di Cukanghaur di Cikabuyutan. Keretanya lepas dari sambungan relnya. Pas udah kejadian itu, kereta api jadi ga jalan lagi sampe sekarang” Ungkap Amih. Kereta api ini merupakan kereta api satu-satunya yang beroperasi di Jalur Soreang-Ciwidey. Hingga saat terjadi sebuah tragedi kereta api yang anjlok dan berdasarkan penuturan Amih tragedi tersebut memakan korban jiwa, seorang nenek penjual rujak, dan jasadnya tidak ditemukan. Kereta api Soreang-Ciwidey pun tidak beroperasi lagi dan jalur kereta api Soreang-Ciwidey oleh PT. KAI di nonaktifkan hingga saat ini.

Tidak hanya jalurnya saja yang memikat hati bagi yang melihatnya, yang menjadi ikon jalur kereta api Soreang-Ciwidey adalah jembatan-jembatan yang berada disepanjang jalur tersebut. Salah satunya adalah jembatan yang terletak di Cikabuyutan dikenal dengan Jembatan Rancagoong. Jembatan ini menyuguhkan pemandangan alam yang memukau. Sungai yang mengalir deras di bawah jembatan, dipadukan dengan hijaunya pepohonan di sekitar, menciptakan panorama yang dapat menenangkan. Keindahan alam ini memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi penumpang kereta api, terutama bagi wisatawan yang ingin menikmati pesona alam Jawa Barat.

Dengan segala perkembangan dan manfaat yang telah ditorehkan, jalur kereta api Soreang Ciwidey tetap menjadi salah satu aset berharga bagi masyarakat Jawa Barat terkhusus masyarakat Bandung Selatan. Dengan melintasi pemandangan alam yang memukau, dan menjadi saksi dari perjalanan memorial yang tak terlupakan. Dalam dunia yang terus berubah dan berkembang, jalur kereta api ini tetap tegak dan berdiri kokoh sebagai warisan sejarah dan kebanggaan bagi masyarakat setempat.***(Gustya Cipta Daryani SPI B)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Solverwp- WordPress Theme and Plugin