Info Inspiratif Seputar Jabar

Menepis Rasa Sepi dengan Berjualan

0

(Minggu/04/06/23) Jalanan yang biasanya dilalui berbagai kendaraan akan berubah menjadi “Pasar Kaget” setiap hari Minggu. Tepatnya di Jalan Golf, Kecamatan Cinambo, Kelurahan Cisaranten Wetan, Kota Bandung. Pasar kaget ini sudah berlangsung selama hampir 13 tahun, sejak tahun 2010. Awalnya ini lahan kosong yang masih dipenuhi pohon-pohon lebat tapi sejak pembangunan Sungai di Jalan Golf ini selesai, keadaan mulai ramai dengan rumah-rumah penduduk ditambah Pasar Kaget setiap hari Minggu yang ikut meramaikan suasana.

Berbagai pedagang berjejer menanti pembeli, mulai dari pedagang sayur, ayam, kacamata, pakaian, dan aneka jajanan. Salah satunya, Pak Erani seorang pedagang Endog Lewo asal Garut. Endog Lewo sendiri adalah jajanan jadul khas Garut yang sudah ada sejak tahun 1980-an. Makanan hasil dari olahan singkong ini, semakin minim peminat. Harga untuk satu bungkus yang di jual Pak Erani relatif murah, mulai dari Rp.5.000,- sampai Rp.10.000,-.

Pak Erani biasa berjualan mulai dari pagi hari sekitar pukul 06.00. “da teu lami teuing jam 10 mah uih we, da ti jam 6” (ngga lama-lama paling jam 10 juga pulang, soalnya emang dari jam 6) kata Pak Erani. Karena memang peminatnya tidak sebanyak makanan lain, pak Erani memutuskan untuk pulang lebih cepat. Dan sudah 5 tahun pak Erani berjualan jajanan jadul, Endog Lewo ini.

Dari Kadungora (Garut), Pak Erani pergi ke Bandung untuk berjualan dan sudah berlangsung selama 5 tahun. Selain berjualan di Pasar Kaget pada hari minggu, di hari lainnya Pak Erani berjualan di Pasar Ujung Berung. “biasana di Ujung Berung, di pasar ngan mun unggal minggon didieu” (biasanya di Pasar Ujung Berung, tapi kalo hari Minggu disini) jelas Pak Erani.

Untuk penghasilan yang didapat tidak menentu, terkadang Pak Erani dapat meraup sekitar Rp.300.000,- atau bahkan hingga Rp.500.000,- per harinya. Dapat dilihat peminat jajanan jadul ini masih cukup ramai, meski memang bukan jajanan yang biasanya digandrungi anak-anak zaman sekarang.

Yang membuat Pak Erani memutuskan untuk berjualan selain karena faktor ekonomi, ia juga merasa di masa tuanya ini sangat kesepian. Meski memiliki 7 anak, semua anaknya tidak tinggal dekat dengan rumahnya, “pun istri sudah meninggal eneng, di rumah sakit nembe lima sasih… ai pun anak mah aya tujuh, di Cirebon, di Bogor, paling cakeut didinya di Banjaran” (istri saya sudah meninggal 5 bulan yang lalu di rumah sakit, anak saya ada tujuh tapi tinggalnya di Cirebon, di Bogor, paling deket di Banjaran) kata Pak Erani.

Dagangan yang di bawa pak Erani ini memang bukan buatannya, tapi barang bawaan dari pabrik (karungan) yang biasanya di bawakan oleh anaknya yang tinggal di Banjaran. Setelah yang di dagangkannya habis, baru ia mengambil lagi dari pabrik.

Latar belakang seseorang bertahan hidup memang selalu menyimpan cerita menarik dibaliknya. Seperti hari-hari tua pak Erani yang ia putuskan untuk menghabiskannya dengan berdagang, apalagi setelah ditinggal jauh anak-anaknya bahkan istrinya lima bulan lalu. Meski memang pendapatan yang tidak menentu, baginya yang terpenting dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan ini adalah cara Pak Erani menghibur dirinya dari rasa sepi.*** (Azzahra Fadilla SPI…A).

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Solverwp- WordPress Theme and Plugin