Info Inspiratif Seputar Jabar

Rumah Kuwu, Peninggalan Zaman Belanda Masih Tersisa di Purwakarta

0

PURWAKARTA-Ingin melihat rumah priyayi setarap kepala desa zaman kolonial, datanglah ke desa Citalang Kabupaten Purwakarta. Di sana berdiri rumah panggung seorang priyayi yang telah didirikan pada tahun 1905-an.

Rumah klasik zaman kolonial bekas kuwu masa lalu, masih terawat. “Rumah ini kini dirawat oleh keturunan lurah dahulu. Generasi penerusnya melestarikan agar menjadi monumen kehidupan lurah zaman kolonial,” ujar Endang Anali (50) penjaga rumah klasik itu. Ia generasi kelimabelas dari lurah pemilik rumah itu. Endang Anali sangat bangga, karena keturunannya masih bisa menjaga artefak rumah kuwu masa lalu. Tapi bukan tidak ada masalah; masalahnya klasik juga, kata Endang Anali, masalah biaya perawatan untuk melestarikannya.

“Beginilah bentuknya jang (sebutan anak muda laki-laki sunda) tidak terurus sama tidak ada yang mengurus” ujar firman. Lantai dalam rumah masih asri dengan lantai terbuat dari bambu dipertahankan untuk memperlihatkan keaslian dari rumah bekas lurah/kuwu zaman kolonial.

Menginjakan kaki di dalam rumah tua yang usang, seolah-olah membawa kita ke lorong masa lalu. Setiap sudut rumah menggambarkan kemegahan rumah tua di masa lalu, serta kehidupan masa lalu. Dinding, jendela dan kusen terbuat dari kayu, termakan dan tergerus oleh usia. Semua hal tersebut mnjadi gambaran saksi bisu masa kejayaan masa lalu.

Lokasinya sendiri berada di Gang Patinggi lll, kampung Karangsari, Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta. Sedikit menengok masa lalu dibuatnya rumah bekas lurah tersebut.

Rumah Tua tersebut merupakan peninggalan dari Rd. mas Sumadireja yang telah dibangun sejak zaman penjajahan, lebih tepatnya pada tahun 1905, dengan peralatan dan bahan sederhana waktu itu dan diperuntukan untuk tempat tinggal.

Pada saat dibangun Rd. Mas Sumadireja menjabat sebagai patinggi lll (sebutan lurah/kepala Desa/kuwu). Rd. Mas Sumadireja adalah anak dari bupati Brebes (Jawa Tengah) yang ditugaskan ke Batavia (Jakarta) untuk mengusir penjajah bersama ke-3 saudaranya.

Akibat dari pertempuran dan pasukan tidak seimbang dengan tentara Belanda, akhirnya terpojok dan mundur. Beliau berpindah-pindah berkali-kali, dalam menghindari gempuran pasukan Belanda, mulai dari Purwakarta, Plered, Karawang, dan terakhir di Desa Citalang Kecamatan Purwakarta bertempat tinggal.

Rd. Mas Sumadireja menetap di Desa Citalang Purwakarta hingga wafatnya pada tahun 1921. Dan meninggal dunia serta dimakamkan di TPA Pasir Kerabau Citalang. Saat ini rumah tersebut di urus oleh keturunanya.

Jadi, ternyata kampung halaman kita masih banyak sekali peninggalan-penunggalan yang memiliki nilai sejarah yang masih belum terungkap. Dan penunggalan-peninggalannya harus kita jaga bersama ya. (yoga sagara SPI VI-E)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Solverwp- WordPress Theme and Plugin