Info Inspiratif Seputar Jabar

Berduka Dari Kejauhan, cerita santri Ponpes Raudhatul Uluum Subang asal Maluku yang tidak pernah Pulang

0

SUBAGNG-Suzambrin S. Adrian adalah seorang santri asal Maluku, tepatnya di daerah goro goro.  ia pergi dengan begitu jauh dari tempat tinggal nya untuk menuntut ilmu di Jawa Barat, tepatnya di Ponpes Al ikhlas Raudhatul Uluum Subang. Saat pertama kali datang, ia di antar oleh seorang guru madrasah nya yang merupakan teman dari putra kiayi Ponpes tersebut.

Suzambrin, tidak di antar oleh salah satu keluarga atau kerabatnya. Di karenakan keadaan ekonomi yang berkekurangan, pada usia 9 tahun lah ia mondok di Pesantren tersebut. Pertama  tama, ia kesulitan dalam beradaptasi entah dalam hal pergaulan, bahasa, bahkan makan.

“Dulu pas awalan mondok saya bisa makan nasi sampai 3 piring, dan dua jam kemudian saya akan merasakan kelaparan lagi” tutur nya. Faktor utama dari hal itu, karena di daerah Suzambrin makanan pokok itu menggunakan sagu sehingga tidak heran jika ketika ia berganti makanan pokok kepada nasi ia akan merasa lapar. Suzambrin juga lambat laun di ajarkan bahasa sunda oleh teman teman seangkatannya. Rambutnya yang ikal, mukanya yang berwarna tidak membuatnya di olok olok atau di bedakan.

Namun Suzambrin memiliki keunikan, ia bisa tertidur di atas dahan dahan pohon yang bergelantungan. “saya dulu di Maluku sering melakukan hal tersebut itu tidak lah aneh buat saya”. Berjalan waktu, tiga tahun lamanya. Ia tidak pernah di tengok oleh orang tuanya, atau bahkan kerabatnya. Hanya melalui telepon genggam lah ia bisa berkomunikasi dengan orang tuanya. Tiga tahun sudah berada di Ponpes Suzambrin akan menghadiri wisuda satu minggu lagi, ia mendapatkan telepon dari sang ibu berbincang dengan ria dan bahagia. Setelah sesi rindu selesai, ia melanjutkan kegiatannya dengan mencuci.

Namun, kabar duka yang Suzambrin dapatkan. Ibunya meninggal ketika hendak pulang dari kota untuk menelpon Suzambrin. Dikarenakan, keluarga Suzambrin hidup di pelosokkan, maka unruk sekedar menelpon ibunya harus pergi ke kota (kecamatan) dengan menggunakan perahu dan mobil angkutan umum untuk mendapatkan hal itu.

“Disana saya tidak tahu harus bagaimana, mau pulang gak ada ongkos , gak ada yang anter. Mau vc sanak saudara gk bisa karena dipelosok. Sumpah saya mendengar kabar duka dari guru saya itu, separuh hidup saya menghilang” tutur nya sambil menyeka air mata. Jauh di rantauan berbeda pulau, sangat berat bagi anak uang berusia 11 tahun untuk mendengar kabar duka kehilangan ibunya tanpa bisa melihat wajah terakhirnya lebih dulu.

“Namun kini saya tumbuh menjadi anak yang dewasa, meski saya harus hidup sendiri. Bapak saya selayaknya membuang saya, tidak ada kabar, tidak ada tranferan uang perbulan. Saya hanya mengandalkan hidmah saya kepada guru diponpes saja untuk mendapatkan uang jajan dan makan” pilunya. Diponpes Raudhatul Uluum ini memang kebanyakan menampung santriwan/ wati yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan. Tidak banyak, santri disana yang ditinggalkan oleh orangtuanya tanpa di biayai, yang terpenting mereka teguh dalam menuntut ilmu dan mengabdi.

“Saya disini juga diberikan pekerjaan, seperti menjaga tempat jualan seblak dan jus. Saya diberi modal oleh guru saya, dan saya belajar membuat seblak dan alhamdulillah dari hasil itu saya bisa memenuhi keinginan saya seperti jajan dan lain lain” jelasnya. Masa remaja Suzambrin memang berat, saat ditinggalkan ibunya menghadap sang illahi, berbarengan dengan itu ia juga di terlantarkan sanak saudaranya dan ayahnya. Selama 11 tahun ia berada dipondok pesantren, ia tidak pernah pulang atau dijenguk oleh kerabatnya bahkan saat hari raya pun tiba.

“yang paling membuat saya berduka adalah ketika awal hari raya, saya tidak tahu harus pulang kemana karena santri disini mudik semua dan di jemput orang tuanya. Yang saya tahu, saya terkadang diam saja di kamar atau ikut dengan keluarga pesantren” tuturnya. Betapa pedihnya santri Maluku ini, yang entah kemana ia harus pulang. Keluarga pondoklah yang telah menjadi keluarga barunya. “saya memiliki keluarga baru yang hebat dan peduli terhadap saya dan santri lainnya, saya berharap semoga keluarga pondok mendapatkan keberkahan dari Alloh swt”.

(Nurhabibah SPI 6D)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Solverwp- WordPress Theme and Plugin